SHARING PERSAUDAARAAN NGUDA RASA (01)

Sharing seputar Pendidikan

PENDIDIKAN

Br. B. Sukasta, MTB.

1/27/2026

Apa kabar?

Di kota Kathulistiwa, musim hujan, tiap hari hujan, kalau tidak malam ya sore, kadang-kadang pagi hari. Musim buah telah berlalu, tapi jambu di samping dapur mulai masak dan berjatuhan. Halaman jadi terasa kotor. Jambunya besar-besar, masam agak manis, tapi brudernya tidak mengacuhkan. Saya sendiri sering mengambil yang masih baik, diiris-iris, campur sambal trasi, kecut, asin. Beberapa teman bergabung, nduliti sambel karo crito ngalor ngidul, pringas-pringis kepedesen, kalau irisane habis dan tidak ada yang bersedia mengambil jambu lagi, ya bubar.

Saya baru buka emailnya. Saya terkesan membaca kisah suster.

Ini ceritaku:

Saya tinggal dengan belasan saudara di komunitas. Ini komunitas yang jumlah penduduknya besar, sebelumnya saya tinggal di komunitas dengan penghuni beberapa orang saja. Pernah pada suatu masa hanya berdua. Kalau sedang dalam keadaan konslit ya tidak ada komunikasi yang sehat, maunya marah-marah, minimal ya menggerutu. Terasa susah. Apa lagi saat itu ya masih perkasa maksudku muda, jadi ya merasa mampu dalam segala sesuatu.

Sekarang ini tinggal dengan saudara dari berbagai usia, tua, tengah tua, muda dan muda sekali. Seperti biasa dalam hidup bersama ada-ada saja yang terasa menjengkelkan, menjemukan atau membosankan. Beberapa saudara tenang-tenang saja meski orang lain sedang ribet, saudara lain selalu mencela apa saja yang dilihatnya, merasa dirinya yang paling mengerti. Ada juga sih yang kelihatannya perhatian, tapi sambil menggerutu sana-sini. Ada saudara yang pekerjaannya ngrasani, liyane ndableg. Aku sendiri lebih banyak jadi orang pendiam, terutama karo sing ora dicocoki. Tapi suwe-suwe ya capek juga. Ora digatekake sakomah, kalau ditanggapi memuakkan. Dalam renungan aku sering berpikir, piye ya agar dapat menjadi saudara bagi yang lain. Menurut teori menjadi saudara itu menerima apa adanya, tapi kalau terus menerus terasa menjengkelkan bagaimana. Saya paling sulit untuk mendengarkan apalagi kalau pembicaraane ora cocok, padahal kunci utama persaudaraan itu jarene berani dan bersedia mendengarkan. Sampai aku ditegur oleh senior karena sifatku itu. Dia bilang mendengarkan itu membantu meringankan beban yang mereka pikul. Menjadi saudara ini memang perlu keberanian pikirku. Kalau orang mau omong dengan kita itu, artinya ia percaya, meski yang mendengar bisa menjadi kaku gulune.

Begitu saudariku aneka ria persaudaraan tempatku tinggal.

Saya sendiri tidak mengingkari, karena ini pilihan hidup. Nang endi wae pasti ada tantangane, begitu aku sering berpikir. Mungkin wong liyopun merasa seperti itu ketika berhadapan denganku, bosan menjengkelkan dllnya. Apa boleh buat namanya juga sama-sama berjuang.

Sugeng dalu nggih, Saudariku

Selamat berjuang.

Berkah Dalem

“Nar23052013, renov & Post 26012026”

Spkt Ptk 12:28